Minggu, 09 September 2012

Cerpen Bahasa Indonesia

Army Die


Pukul tiga pagi saya sudah terbangun dari tidurku untuk bersiap-siap ke markas pasukanku. Pasukanku ini adalah pasukan dari terdiri dari gabungan beberapa Negara, dan pasukanku ini termasuk pasukan khusus yang tidak boleh diketahui banyak orang. Setelah sampai disana tiba-tiba pimpinanku yang bernama Jaka mengatakan bahwa kami mendapat tugas dari seorang yang sering kami sebut dengan Big Dady, Jaka mengatakan “Saya (Jaka) tadi malam mendapat telepon dari Big Dady bahwa kita akan membasmi seorang gangster pimpinan Yakuza yang kabur dari Jepang bernama Takada Nasimura yang sedang bersembunyi di Indonesia. Menurut Big Dady, dia sedang berada di sebuah apartement yang tidak berpenghuni di daerah teeeetttttt….. dan membawa pasukan yang sangat banyak dan sudah bersiap perang hidup atau mati.  Tugas kita sederhana, tangkap dan seret dia keluar”. Saat Jaka mengatakan hal itu, saya melihat temanku yang bernama Andi langsung gemeteran dan merasa takut dalam hal ini. Pada waktu yang sudah ditentukan dan pasukan yang sudah disiapkan, kami langsung diberangkatkan menuju apartement yang dituju. Pasukanku sebenarnya hanya ada beberapa orang, terdiri dari Jaka, Saya, Lee Christmast, Andi, Bill Smith, Willy Jean, Sam, Yin Yang, Gunner, dan Maddog. Walaupun kami hanya memiliki pasukan yang sedikit, tetapi kami cukup disegani oleh musuh-musuh kami. Setelah sampai disana, lalu kami menyiapkan senjata kami yang sudah lengkap dengan alat-alat canggih.
Lalu kami turun dari mobil yang membawa kami ke daerah yang dituju, kami menyiapkan strategi untuk menangkap si Takada. Jaka mengatakan “Kita bagi dua kelompok, Saya (Jaka) lewat depan dengan Bill, Willy, Sam, dan Maddog. Kamu lewat belakang bersama yang lainnya, kita bertemu di lantai dua”. Saya hanya mengangguk. Jaka menambahkan “Saat saya bilang go, kita langsung berpencar”. “baik” kata saya. Dan beberapa saat kemudian Jaka Mengatakan “Go!!!...”, kami pun langsung berpencar dari barisan dan mulai melaksanakan strategi tersebut. Saat sampai di pintu belakang, kami tiba-tiba melihat dua orang pasukan Takada yang sedang berjaga di pintu dengan membawa senjata. Saya dan Lee Christmast langsung menembakan peluru dari senjata berperedam dengan cepat pasukan Takada pun tergeletak begitu saja. Lalu kami masuk dari belakang dengan cepat, dan langsung menuju ke lantai dua untuk bertemu dengan Jaka. Saat sudah berada dilantai dua Jaka dan pasukan yang lainnya menghampiri kami untuk bersama-sama naik ke lantai tiga. Menurut Big Dady Takada berada dilantai paling atas. Kami terus mengendap-endap sampai ke lantai yang kami tuju, saat berada di lantai tiga disana aman tidak ada satupun pasukan Takada yang berada disana. Begitu pula dengan lantai empat, lima, dan enam. Tetapi pada saat dilantai tujuh, kami tiba-tiba melihat seorang pasukan Takada yang sangat banyak sedang berkumpul di lorong tersebut sedang mengatur strategi untuk mengusir kami dari apartementnya. Ternyata dari awal Takada sudah mengetahui kita sudah berada di apartementnya, karena disana semua aktivitas diintai oleh kamera tersembunyi. Dan saat itu pasukan Takada ada yang melihat kami dan langsung menembakan peluru ke arah kami, kami langsung berlarian kesana-kemari. Saya langsung memberanikan diri untuk membalas tembakan mereka, setelah itu teman-teman saya ikut menembaki pasukan Takada yang sangat banyak itu. Dan beberapa saat kemudian teman kami Andi tertembak pas kena kepalanya, dia pun mati seketika. Setelah itu aku sangat marah karena teman yang paling dekat denganku ditembak begitu saja di hadapanku. Aku langsung mengambil geranat yang berada di kantong jaketku, lalu kutarik kunci di geranat itu dan kusuruh teman-temanku untuk berhenti menembak karena saya akan melempar granat. Setelah itu saya lempar ke arah mereka dan meledak sangat dahsyat. Setelah meledak kulihat pasukan Takada sudah pada mati berserakan di lorong lantai tersebut, dan kulihat Bill, Willy, dan Sam mati tergeletak di lantai terkena tembakan dari mereka.
Dan setelah itu Jaka menyuruh saya naik duluan ke lantai berikutnya. Saat sampai di lantai delapan saya bertemu kembali dengan pasukan Takada yang lebih banyak dari yang tadi, aku pun langsung menembaki mereka satu persatu sampai mati terjatuh di lantai. Dan tiba-tiba Gunner dan pasukanku yang lainnya datang dengan membawa senjata yang sangat besar dan memuntahkan peluru yang sangat banyak untuk membantuku mengalahkan pasukan Takada. Dan seketika pasukan Takada sudah mati, kami pun bergegas ke tempat Takada untuk menangkapnya. Setelah sampai di kamar Takada, tiba-tiba kami dihadang oleh seorang pengawal pribadi Takada yang bernama Ajino Motor, kami pun langsung saja menembaknya sampai mati. Dan akhirnya Takada Nasimura dapat kami tangkap dan langsung kami bawa ke Jepang untuk dieksekusi.
Setelah semua selesai kami pun langsung memberikan penghormatan terakhir kepada para pasukan kami yang gugur dalam peperangan kemarin. “Kami akan selalu menghormati jasa-jasa kalian yang sudah mengorbankan nyawa kalian untuk kebenaran. Selamat jalan kawan-kawan, suatu hari nanti, kita akan membalas semua kebaikan kalian” Ujar Jaka.

-TAMAT-